Tradisi
Tawuran Pelajar Dalam Lembaga Pendidikan
Nama : Hendra
Wira
Kelas : 2pa08
Npm :14513022
BAB
I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang Masalah
Tawuran antar
pelajar atau mahasiswa, sepertinya sudah menjadi kegiatan rutin para pelajar
atau mahasiswa di Indonesia. Tawuran layaknya penyaluran identitas diri akan
kemampuan dan kebanggannya terhadap diri sendiri, kelompok, atau almamater.
Mereka tidak memikirkan buruknya berkelahi atau tawuran. Mereka hanya
memikirkan kepentingan sesaat “Inilah Aku”.
Tawuran pelajar
bukan hal yang bisa dianggap enteng,tawuran pelajar sekarang tidak hanya
terjadi di kota-kota besar saja melainkan juga menjalar ke
daerah-daerah.Permasalahan remeh dapat menyulut pertengkaran individual yang
berlanjut menjadi perkelahian massal dan tak jarang melibatkan penggunaan
senjata tajam,senjata api, bahkan akhir-akhir ini banyak pelajar menggunakan
bahan kimia seperti air keras sebagai senjatanya.
Dewasa
ini,kekerasan sudah dianggap sebagai pemecah masalah yang sangat efektif yang
dilakuka oleh para remaja.Hal ini seolah menjadi bukti nyata bahwa seorang yang
terpelajar pun leluasa melakukan hal-hal yang bersifat anarkisme dan
premanisme.Tentu saja perilaku buruk ini tidak hanya merugikan orang yang
terlibat dalam perkelahian itu sendiri tetapi juga merugikan orang lain yang
tidak terlibat secara lagsung.
I.2
Perumusan Masalah
Dari
latar belakang masalah tersebut diatas ditemukan masalah pokok yang akan dibahas diantaranya adalah sebagai berikut
apa itu tawuran,adapun faktor Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya
tawuran?hal apa saja yang memicu tawuran?dampak apa saja
akibat terjadinya tawuran,dan bagaimana solusi untuk menghindari ataupun
mencegah terjadinya
BAB
II
LANDASAN
TEORI
1.Teori : Teori Peran
Perspektif dasar teori ini adalah bahwa
tingkah laku dibentuk oleh peranan-peranan yang diberikan oleh masyarakat bagi
individu-individu untuk melaksanakannya. Teori ini mengakui pengaruh
faktor-faktor sosial pada tingkah laku individu dalam situasi yang berbeda.
Peranan pada umumnya didefinisikan sebagai sekumpulan tingkah laku yang
dihubungkan dengan suatu posisi tertentu (Sarbin & Allen, 1968).
2.Teori
Stres Lingkungan (Environment Stress Theory)
Tawuran yang terjadi akibat dari terganggunya
ruang privasi atau teritori dari pelajar dan siswa yang umumnya berada di
daerah perkotaan. Karena daerah perkotaan merupakan daerah yang padat dan sesak
akibat banyaknya bangunan dan jumlah manusia yang terus meningkat. Pelajar yang
merasa terganggu dengan hal ini akan melakukan satu dari dua hal yang
menurutnya nyaman, yaitu menjauhi kepadatan dengan menyendiri sehingga tidak
memiliki teman, rata-rata siswa seperti ini akan menjadi objek kejahilan hingga
kekerasan dari teman-temannya yang lain. Kemudian siswa yang memilih masuk
bergabung dalam kepadatan sehingga beresiko tinggi mengalami stres lingkungan
dan siswa inipun menjadi oknum pencetus terjadinya tawuran
A.Pengertian Tawuran
Tawuran
pelajar saat ini sudah menjadi momok bagi masyarakat. Prilaku tawuran pelajar
bukan hanya mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cedera tapi sudah
merenggut ratusan nyawa melayang sia-sia selama sepuluh tahun terakhir.
Beberapa tahun lalu beberapa siswa dari sebuah sekolah swasta ditangkap polisi karena masalah tawuran tersebut.Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Beberapa tahun lalu beberapa siswa dari sebuah sekolah swasta ditangkap polisi karena masalah tawuran tersebut.Dalam kamus bahasa Indonesia “tawuran”dapat diartikan sebagai perkelahian yang meliputi banyak orang. Sedangkan “pelajar” adalah seorang manusia yang belajar. Sehingga pengertian tawuran pelajar adalah perkelahian yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mana perkelahian tersebut dilakukan oleh orang yang sedang belajar
Kualitas pendidikan di Indonesia saat
ini sangat memprihatinkan. Hal ini terbukti dengan terjadinya peristiwa –
peristiwa tawuran para pelajar yang saat ini sedang maraknya terjadi. Tawuran
saat ini juga sudah menjadi hal yang biasa bagi masyarakat.Banyaknya tawuran
antar pelajar yang terjadi di kota – kota besar di Indonesia merupakan sebuah
fenomena yang menarik untuk di bahas. Perilaku pelajar yang anarkis berasal
dari banyak faktor yang mempengaruhi baik faktor internal ataupun eksternal.
Perlikau tawuran pelajar bukan hanya
mengakibatkan kerugian harta benda atau korban cidera tetapi bisa sampai
merenggut nyawa orang lain. Di mata mereka nyawa tidak ada harganya, bahkan mereka
merasa bangga jika berhasil membunuh pelajar sekolah lain yang mereka anggap
musuh mereka.Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja
digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja (juvenile deliquency).
Kenakalan remaja, dalam hal perkelahian, dapat digolongkan ke dalam 2 jenis
delikuensi yaitu situasional dan sistematik.
1. Delikuensi
situasional, perkelahian terjadi karena adanya situasi yang “mengharuskan”
mereka untuk berkelahi. Keharusan itu biasanya muncul akibat adanya kebutuhan
untuk memecahkan masalah secara cepat.
2. Delikuensi
sistematik, para remaja yang terlibat perkelahian itu berada di dalam suatu
organisasi tertentu atau geng. Di sini ada aturan, norma dan kebiasaan tertentu
yang harus diikuti angotanya, termasuk berkelahi. Sebagai anggota, tumbuh
kebanggaan apabila dapat melakukan apa yang diharapkan oleh kelompoknya.
Seperti yang kita ketahui bahwa pada masa remaja seorang remaja akan cenderung
membuat sebuah genk yang mana dari pembentukan genk inilah para remaja bebas melakukan apa saja tanpa adanya
peraturan-peraturan yang harus dipatuhi karena ia berada dilingkup kelompok
teman sebayanya.
Faktor- faktor
yang menyebabkan tawuran pelajar
Berikut ini
adalah faktor-faktor yang menyebabkan tawuran pelajar, diantaranya :
a. Faktor Internal
Faktor internal
ini terjadi didalam diri individu itu sendiri yang berlangsung melalui proses
internalisasi diri yang keliru dalam menyelesaikan permasalahan disekitarnya
dan semua pengaruh yang datang dari luar. Remaja yang melakukan perkelahian
biasanya tidak mampu melakukan adaptasi dengan lingkungan yang kompleks.
Maksudnya, ia tidak dapat menyesuaikan diri dengan keanekaragaman pandangan,
ekonomi, budaya dan berbagai keberagaman lainnya yang semakin lama semakin
bermacam-macam. Para remaja yang mengalami hal ini akan lebih tergesa-gesa
dalam memecahkan segala masalahnya tanpa berpikir terlebih dahulu apakah akibat
yang akan ditimbulkan. Selain itu, ketidakstabilan emosi para remaja juga
memiliki andil dalam terjadinya perkelahian. Mereka biasanya mudah friustasi,
tidak mudah mengendalikan diri, tidak peka terhadap orang-orang disekitarnya.
Seorang remaja biasanya membutuhkan pengakuan kehadiran dirinya ditengah-tengah
orang-orang sekelilingnya.
b. Faktor Eksternal
Faktor eksternal
adalah faktor yang datang dari luar individu, yaitu :
1.
Faktor Keluarga
Berikut ini adalah salah satu faktor penyebab
tawuran, yaitu faktor keluarga. A. Adanya parenting yang otoriter, di mana dalam pengasuhan dipenuhi dengan tindakan kekerasan terhadap anak; b. Adanya kekerasan yang
terjadi antar orangtua, misalnya orangtua kurang harmonis, sering bertengkar dan melakukan tindak kekerasan.Keluarga
adalah tempat dimana pendidikan pertama dari orangtua diterapkan. Jika seorang
anak terbiasa melihat kekerasan yang dilakukan didalam keluarganya maka setelah
ia tumbuh menjadi remaja maka ia akan terbiasa melakukan kekerasan karena
inilah kebiasaan yang datang dari keluarganya. Selain itu ketidak harmonisan
keluarga juga bisa menjadi penyebab kekerasan
yang dilakukan oleh pelajar. Suasana keluarga yang menimbulkan rasa
tidak aman dan tidak menyenangkan serta hubungan keluarga yang kurang baik
dapat menimbulkan bahaya psikologis bagi setiap usia terutama pada masa remaja.Menurut
Hirschi (dalam Mussen dkk, 1994). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa
salah satu penyebab
kenakalan remaja dikarenakan tidak berfungsinya orang tua sebagai figure
teladan yang baik bagi anak (hawari, 1997). Berdasarkan hasil
penelitian ditemukan bahwa salah satu penyebab kenakalan remaja dikarenakan
tidak berfungsinya orang tua sebagai figure teladan yang baik bagi anak
(hawari, 1997). Jadi disinilah peran orangtua sebagai penunjuk jalan anaknya
untuk selalu berprilaku baik.
2. Faktor
Sekolah
a.
Adanya kualitas pengajaran yang kurang memadai dan kurang menunjang proses
belajar; b. Adanya guru yang lebih berperan sebagai penghukum dan pelaksana
aturan, serta sebagai tokoh otoriter yang
seringkali menggunakan kekerasan dalam “proses
pembelajaran” dan “mendidik” siswanya.Sekolah tidak
hanya untuk menjadikan para siswa pandai
secara akademik namun juga pandai secara akhlaknya . Sekolah merupakan wadah
untuk para siswa mengembangkan diri menjadi lebih baik. Namun sekolah juga bisa
menjadi wadah untuk siswa menjadi tidak baik, hal ini dikarenakan hilangnya
kualitas pengajaran yang bermutu. Contohnya
disekolah tidak jarang ditemukan ada seorang guru yang tidak memiliki
cukup kesabaran dalam mendidik anak muruidnya akhirnya guru tersebut
menunjukkan kemarahannya melalui kekerasan. Hal ini bisa saja ditiru oleh para
siswanya. Lalu disinilah peran guru dituntut untuk menjadi seorang pendidik
yang memiliki kepribadian yang baik.
3. Faktor Lingkungan
Lingkungan rumah
dan lingkungan sekolah dapat mempengaruhi perilaku remaja. Seorang remaja yang
tinggal dilingkungan rumah yang tidak baik akan menjadikan remaja tersebut ikut
menjadi tidak baik. Kekerasan yang sering remaja lihat akan membentuk pola
kekerasan dipikiran para remaja. Hal ini membuat remaja bereaksi anarkis. Tidak
adanya kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu senggang oleh para pelajar
disekitar rumahnya juga bisa mengakibatkan tawuran.
Hal yang menjadi
pemicu tawuran
Tak jarang
disebabkan oleh saling mengejek atau bahkan hanya saling menatap antar sesama
pelajar yang berbeda sekolahan. Bahkan saling rebutan wanita pun bisa menjadi
pemicu tawuran. Dan masih banyak lagi sebab-sebab lainnya.
Dampak karena
tawuran pelajar
a. Kerugian fisik, pelajar yang ikut
tawuran kemungkinan akan menjadi korban. Baik itu cedera ringan, cedera berat,
bahkan sampai kematian
b. Masyarakat sekitar juga dirugikan.
Contohnya : rusaknya rumah warga apabila pelajar yang tawuran itu melempari
batu dan mengenai rumah warga
c. Terganggunya proses belajar mengajar
d. Menurunnya moralitas para pelajar
e. Hilangnya perasaan peka, toleransi,
tenggang rasa, dan saling menghargai
Hal-hal yang
dapat dilakukan untuk mengatasi tawuran pelajar
A. Sekolah
a.Memberikan
pendidikan moral untuk para pelajar
b.Menambah jam
pelajaran keagamaan baik di sekolah ataupun di tempat kuliah. Dengan penambahan
jam pelajaran agama ini siswa atau mahasiswa diajak untuk lebih memahami bahwa
pertengkaran, perkelahian atau tawuran itu tidak ada manfaatnya, yang ada hanya
kerusakan dan bahkan kematian.
c. Menghadirkan
seorang figur yang baik untuk dicontoh oleh para pelajar. Seperti hadirnya
seorang guru, orangtua, dan teman sebaya yang dapat mengarahkan para pelajar
untuk selalu bersikap baik
d.Mengisi waktu
luang dengan kegiatan yang bermanfaat seperti olahraga, ekstrakurikuler atau
penelitian yang bermanfaat bagi mahasiswa. Sehingga tidak terpikirkan keinginan
untuk melakukan hal-hal yang tidak terpuji.
e.Pihak sekolah
atau kampus harus memberikan sangsi yang tegas jika ada siswa atau mahasiswa
yang melakukan tawuran. Dari member sangsi diskors sampai dikeluarkan.
B. Orang Tua
a.Orang tua
harus mengawasi kegiatan anaknya. Apabila si anak belum pulang ke rumah seperti
biasanya, sebaiknya orang tua proaktif menanyakan ke anak melalui telepon
seluler, atau ke teman atau ke sekolahan.
b.Memberikan
perhatian yang lebih untuk para remaja yang sejatinya sedang mencari jati diri
C. Lingkungan
a.Patroli polisi
dan satpol PP diintensifkan saat jam pulang sekolah, karena siswa atau
mahasiswa yang berbeda almamater biasanya akan cepat tersulut emosinya saat
mereka berpapasan dengan jumlah yang banyak.
b.Masyarakat
berperan aktif jika ada tanda-tanda akan terjadi tawuran, atau sudah terjadi
tawuran dengan menelepon polisi atau melalui jejaring sosial facebook dan
twitter melalui akun @NTMCLantasPolri agar polisi segera datang dan
mengendalikan suasana.
c.Memfasilitasi
para pelajar untuk baik dilingkungan rumah atau dilingkungan sekolah untuk
melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat
diwaktu luangnya. Contohnya :
membentuk ikatan remaja masjid atau karangtaruna dan membuat acara-acara yang
bermanfaat, mewajibkan setiap siswa mengikuti organisasi atau ekstrakulikuler
disekolahnya
d.Para pedagang jangan
menjual bebas senjata tajam dan
bahan-bahan kimia yang berbahaya
Kartini kartono
pun menawarkan beberapa cara untuk mengurangi tawuran remaja, diantaranya:
1. Banyak mawas diri, melihat kelemahan dan
kekurangan sendiri dan melakukan koreksi terhadap kekeliruan yang sifatnya
tidak mendidik dan tidak menuntun
2. Memberikan kesempatan kepada remaja
untuk beremansipasi dengan cara yang baik dan sehat
3. Memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan
yang relevan dengan kebutuhan remaja zaman sekarang serta kaitannya dengan
perkembangan bakat dan potensi remaja
Saat ini mulai berkembang paradigma baru
tentang “pendidikan yang menyenangkanE2, seperti model quantum learning.
Dalam quantum
learningpelajaran sekolah tidak menjadi beban bagi siswa. Pendidikan
disesuaikan dengan ranah berpikir siswa. Jadi bukannya siswa yang “dipaksa”
mengikuti pelajaran sesuai kemauan guru, termasuk dalam hal penilaian
benar-salah. Guru yang harus “masuk” ke dalam ranah berpikir siswa, menyelami
apa pemikiran, kehendak, dan jiwa siswa. Dalamquantum learning, guru
tidak bisa dengan otoriter memaksakan pendapatnya paling benar. Tetapi siswa
dilibatkan untuk mengkaji kebenaran nilai-nilai itu dan perbedaan pendapat
tidak dilarang. Selama ini kan tidak. Aturan yang dibuat sekolah bernilai
mutlak. Siswa tidak punya kewajiban lain selain patuh. Kalau tidak patuh maka
dianggap “melanggar peraturan” sehingga wajib diberi sanksi. Tidak ada hak bagi
siswa untuk mengemukakan pendapat bahwa setiap aturan mesti tergantung pada konteksnya,
termasuk konteks pemikiran siswa. Akibatnya, siswa patuh karena
“pura-pura”.Selain quantum learning,.
Bahkan menurut penelitian David Goleman, siswa
yang memiliki kecerdasan emosional tinggi, setelah dewasa justru lebih banyak
yang “berhasil” dibanding siswa yang memiliki IQ tinggi. Paradigma baru ini
hendaknya juga mulai diadopsi di Indonesia.Kecerdasan emosional siswa meliputi
kemampuan mengembangkan potensi diri dan melakukan hubungan sosial dengan
manusia lain. Beberapa tolok ukurnya adalah: memiliki pengendalian diri, bisa
menjalin relasi, memiliki sifat kepemimpinan, bisa melobi, dan bisa mempengaruhi
manusia lain.Siswa yang kecerdasan emosionalnya tinggi memiliki “beragam
alternatif bahasa” untuk berkomunikasi dan bernegosiasi dengan manusia lain,
termasuk dengan seseorang yang “dianggap musuh”. Sebaliknya, siswa yang
kecerdasan emosionalnya rendah hanya memiliki satu bahasa: takut atau justru
sebaliknya, tawur. Mereka juga tidak bisa “membedakan” musuh. Tolok ukur
seseorang dianggap “kawan” atau “musuh” adalah seragamnya. Siapapun dia,
asalnya darimana, kalau memakai seragam sekolah “lawan” harus dimusuhi.Seragam
sekolah menjadi sumber masalah.
Meski tujuannya baik yakni untuk melatih
kedisplinan, tetapi juga membawa dampak negatif. Seragam sekolah menumbuhkan
identitas kelompok yang memicu tawuran. Lagipula, penyeragaman seragam sekolah
juga tidak bermanfaat. Malahan, rok siswi yang kadang terlalu mini juga
mengundang masalah sendiri bagi siswa laki-laki.Sebaiknya siswa tidak
diwajibkan mengenakan seragam.
Adapun cara lain mencegah tawuran
dengan cara Membuat Program
Ekstrakurikuler Tawuran ,Diharapkan setiap sekolah membuat ekskul konsep
baru bertema tawuran, namun tawuran pelajar yang mendidik, misalnya tawuran
ilmu, tawuran olahraga, tawuran otak, tawuran dakwah, tawuran cinta, dan lain
sebagainya yang bersifat positif. Tawuran-tawuran ini sebaiknya bukan bersifat
kompetisi, tetapi bersifat saling mengisi dan bekerjasama sehingga bisa
bergabung dengan ekskul yang sama di sekolah lain.
Faktor lingkuan bermain dan Lingkungan
masyarakat perlu dibangun sarana organisasi yang menampung aspirasi &
semangat muda Lingkungan masyarakat yang menjadi lingkungan yang secara
langsung berinteraksi dengan anak, maka dalam lingkungan tersebut haruslah
tersedianya saran dimana anak dapat menyalurkan ide, gagasan, kreatifitas dan
emosi yang membangun sehingga tercipta suatu bentuk kegiatan yang positif yang
dapat menjauhkannya ke hal yang negatif. Seperti sebuah lembaga organisasi yang
legal dari pemerintah sekitar.
Instituti dan orang tua jangan terlalu menekan siswa
dengan berbagai peraturan yang berlebihanPihak – pihak yang secara langsung
berhubungan dengan anak sepatutnyalah harus bisa berinteraksi tanpa harus
memberi tekanan yang berlebih seperti suatu pencapaian prestasi dan telalu
ketatnya sebuah peraturan sehingga anak tidak bisa menyalurkan bakat kreatifitasnya
sehingga mencari tempat di mana mereka bebas menyalurkan aspirasinya tanpa
harus ada tekanan dengan melakukan hal-hal yang negatif.
PEMBAHASAN
Konflik tawuran yang terjadi bila hubungkan dengan
teori Lewis Coser yaitu konflik sebagai mekanisme perubahan sosial dan
penyesuaian, dapat memberi peran positif atau fungsi positif dalam masyarakat.
Dengan kata lain tawuran yang terjadi tidak hanya memberikan hal-hal negatif
terhadap masyarakat, tetapi hal positif dalam situasi tertentu dan kepada siapa
positif itu di terima. Tipe konflik dari konflik realitas sumber dari tawuran
bisa dari asal usul, sesuatu yang diunggulkan dari siswa, dengan mencemooh,
kualitas sekolah. Konflik non realistis sebab tawuran yaitu sumbernya dari ke
tidak rasional, ideologis siswa tawuran seperti masalah harga diri, dendam.
Selanjutnya konflik eksternal dengan adanya tawuran menciptakan dan mempererat
identitas kelompok, meningkatkan partisipasi anggota terhadap pengorganisasian
kelompok, perhatian orang tua dan guru dalam mendidik siswa - siswinya. Teori
internal dengan memberikan koreksi pada perilaku tawuran anggota kelompok.
Dengan adanya tawuran konflik tersebut bisa
diselesaikan dengan berbagai cara yaitu dengan konsiliasi yaitu dari pihak
tawuran di selesaikan di lembaga tertentu sehingga memperoleh solusi atas
masalahnya. Mediasi yaitu dengan melalui jasa perantara yang bersikap netral
sehingga perantara tersebut mempertemukan dan mendamaikan pihak-pihak yang
bersengketa tersebut. Arbitrase yaitu penyelesaian tawuran bisa melalui
pihak ketiga dengan membuat keputusan-keputusan berdasarkan ketentuan atau
aturan yang telah di tetapkan. Adjudication yaitu penyelesaian perkara di meja
hijau. Atau dengan Stalemate yaitu tawuran yang berhenti sendirinya. Dan dapat
di cegah dengan menumbuhkan rasa toleransi terhadap setiap orang dan
pendidikan agama serta moral terhadap siswa sekolah di usia dini hingga
dewasa.
Menurut Koentjaraningrat dalam perilaku
menyimpang terdapat pengendalian sosial yaitu dengan : (1) Pengendalian
sosial bersifat preventif, adalah semua bentuk pencegahan terhadap terjadinya
gangguan pada keserasian antara kepastian dan keadilan, atau dengan kata
lain tindakan preventif adalah tindakan pencegahan terhadap kemungkinan
terjadinya pelanggaran-pelanggaran terhadap norma-norma sosial. (2)
Pengendalian sosial bersifat represif adalah pengendalian sosial yang bertujuan
untuk mengembalikan keserasian yang pernah terganggu karena terjadinya suatu
pelanggaran. Pengendalian sosial secara represif dilakukan dengan cara
menjatuhkan sanksi sesuai dengan besar-kecilnya pelanggaran yang dilakukan. (3)
Pengendalian intrinsik dan ekstrinsik, pengendalian intrinsik adalah
pengendalian oleh diri seorang individu dengan berfikir secara jernih, sabar,
dan jujur sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan yang
menyimpang, di dalam ilmu jiwa, alat pengendali ini dinamakan hati nurani, hati
nurani pada dasarnya selalu bersifat jujur dan benar, seakan merupakan petunjuk
Tuhan kepada umat-Nya secara abstrak dan spiritual. Pengendalian
ekstrinsik, adalah pengendalian terhadap perilaku menyimpang oleh pihak lain
antara lain bisa dilakukan oleh orang tua, keluarga dan kerabat, pihak tokoh
agama, dan masyarakat, serta aparatur negara seperti kepolisian, kejaksaan,
dan pengadilan. (4) Pengendalian internal dan eksternal, pengendalian sosial
internal adalah pengendalian sosial yang berasal dari dalam lembaga itu
sendiri, misalnya pada Departemen Pendidikan Nasional ada aparat pengendali
yang di sebut inspektur jenderal / hingga para pengawas di tingkat pendidikan
dasar, menengah, dan pendidikan tinggi, semua bentuk pengawasan ataupun
pengendalian yang dilakukan dari dalam lembaganya sendiri disebut pengendalian
sosial internal. Pengendalian eksternal, merupakan pengendalian sosial
yang berasal dari luar lembaga, misalnya oleh kepolisian atau oleh tokoh-tokoh
masyarakat selaku pengamat pelaksanaan kebijakan pemerintah.(HTS,
Edukatif. 2010)
Demikian dalam menyelesaikan konflik adanya
pengendalian-pengendalian terhadap siswa yaitu dengan mengajarkan beberapa hal
tentang pendidikan moral serta agama supaya dapat bertoleransi terhadap orang
lain yang berbeda dengan dirinya.
Adapun
beberapa gambar mengenai tawuran dikalangan pelajar :
BAB
III
PENUTUP
1.
Kesimpulan
Permasalahan yang timbul seperti Tawuran antar pelajar
memang bukanlah masalah sepele, dikarenakan makin banyaknya peristiwa serupa
yangterjadi belakangan ini, hal ini sangat disayangkan karena tidakan tersebut
sangatlah tidak terpuji, dan eksistensi diri para pelajarlah sebagai pemicu
terjadinya bentrok antar pelajar. kita harus semakin prihatin akan peristiwa
yang terjadi disekitar kita, karena banyak faktor yang melatar belakanginya,
antara lain faktor internal, yaitu pribadi atau individu dan faktor eksternal,
seperti ; orang tua, sekolah, dan lingkungan sekitar, dalam hal ini orang tua
sangat memiliki peranan penting dalam mendidik anak, karena teladan dan contoh
yang baik bisa membuat seorang anak menjadi baik, begitupula sebaiknya, dan peran
serta sekolah serta lingkungan juga sangat diharapkan, dimana kondisi yang
kondusif bisa berdampak pada keadaan sekitar.Perkelahian terjadi karena adanya
situasi yang mengharuskan mereka untuk berkelahi. Biasanya muncul akibat adanya
kebutuhan untuk memecahkan masalah secara cepat kekerasan makin mewabah di
mana-mana. Wajah-wajah beringas para remaja kita telah menjadi momok tersendiri
di tengah-tengah masyarakat yang makin tak karuan ini. Karena para remaja
nantinya akan jadi generasi akan menjadi penerus bangsa ini dan mampu menjadi
pemimpin keluarga masa kelak mendatang. Banyak hal yang bisa dipelajari dari
peristiwa ini, selain dari dampak yang tentunya sangat-sangat merugikan diri
sendiri dan juga orang lain, serta cara-cara yang bisa diterapkan untuk
menghindari terjadinya tawuran.
2.
Saran
Dalam
hal ini pembinaan dan bimbingan baik dari pihak orang tua maupun sekolah harus
lebih berperan aktif dalam menanggulangi aksi tawuran antar pelajar. Pada pihak
orang tua harus lebih intensif dalam memberikan arahan baik yang bersifat
mendidik maupun yang bersifat pengajaran mengenai nilai dan moral bagi anak.
Pihak sekolah pun dalam hal ini juga tidak kalah penting peranannya dalam
pendidikan karakter anak dan adapun anak berkarakter tidak sesuai dengan yang
diharapkan maka kerjasama dalam perbaikan karakter siswa adalah tugas bersama.
Pihak masyarakat dan pemerintah daerah pun sangat dibutuhkan peranannyadalam
pengawasan di sekitar lingkungan sekolah maupun ditempat umum.
DAFTAR
PUSTAKA
Hartono, Agung.2006. Perkembangan
Peserta Didik. Jakarta: Rineka Cipta Jakarta.
Soetomo.2011.”Masalah sosial dan Upaya
pemecahannya” :Pustaka pelajar.
http://yakubus.wordpress.com/2009/02/25/makalah-sosiologi/
http://www.mail-archive.com/permias@listserv.syr.edu/msg03171.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar